background

Showing posts with label Studi Lanskap. Show all posts
Showing posts with label Studi Lanskap. Show all posts

Monday, November 26, 2012

Hot Spring Cottage (SU8+V-Ray+PhotoshopCS3)

Udah lama nggak posting hal-hal yang berbau lanskap, akhirnya coba iseng-iseng lagi bermain dengan Sketch Up 8 gw yang udah lama gw anggurin semenjak semester 7 beres. Yup, karna penelitian gw saat ini lebih berkaitan dengan studi keragaman dan fungsi ekologis pohon. 

Keisengan ini terinspirasi dari kawasan wisata yang ada di Garut, yaitu Cipanas sebagai pusat pemandian air panas yang bersumber dari Gunung Guntur. Jadi dibuatlah kompleks pondok-pondok untuk wisatawan yang ingin menginap di saat liburan untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama. Pondok-pondok tersebut mengelilingi sebuah kolam air panas yang lebih diperuntukan untuk relaksasi, jadi pengunjung lebih memanfaatkan air panas yang ada di depan pondok mereka untuk bersantai dan sekedar merendam kaki di tengah suhu udara Cipanas yang cukup dingin. *dingin ga ya?lupaa,haha.. Ceritanya kolam air panas yang digunakan untuk berendam ada di bagian lain dari kompleks wisata ini. I miss my landscape design experience.. (-..-")


Friday, March 2, 2012

Trip To Pontianak (Part 4)

Melanjutkan dari apa yang sempat disampaikan mengenai ulasan perjalanan saya dan rekan-rekan Arsitektur Lanskap IPB ke kota Pontianak, akhirnya untuk kesekian kali dalam rentang waktu yang cukup berjauhan, saya dapat kembali menceritakan salah satu perjalanan field trip kami ke sebuah objek lanskap yang termahsyur di kota nol derajat tersebut, yaitu Sungai Kapuas. 

Kunjungan pertama ke Sungai Kapuas, kami lakukan di hari pertama singgah di kota Pontianak kala sore hari. Saat itu, serta merta kami lakukan pengamatan awal terhadap salah satu tapak yang hendak dijadikan objek praktikum mata kuliah Perencanaan, yaitu taman kota yang di dalamnya terdapat replika dari Tugu Khatulistiwa. Kesan yang saya rasakan sendiri ketika kali pertama menyaksikan secara langsung sungai yang terkenal dengan panjang dan lebar alirannya tersebut adalah kagum akan suasana theatrical yang tercipta dari kombinasi kehadiran kapal-kapal yang tengah berlabuh disertai suara gemuruhnya,dipadukan dengan kondisi sungai yang tampak seperti laut dengan ombak sederhana dan permukaan air yang tidak terlihat dangkal.    

 Sungai dan transportasi penyebrangan

Water front city

Puas melakukan pengamatan awal, kesempatan kedua mengunjungi kembali Sungai Kapuas kami lakukan di hari kedua singgah. Di hari itu, kami juga berkesempatan mengunjungi Masjid Jami' Sultan Abdurrahman, Kampung Beting dan Keraton Kadriah (meskipunn tidak sempat masuk ke dalam keraton). Untuk kali pertamanya, kami pun akhirnya dapat merasakan sebuah pengalaman menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil yang disewa. 

 Menyeberangi sungai

 Sekelompok anak bermain lompat tali di shelter penyeberagan

Sepertinya pengalaman berperahu di Sungai Kapuas belum terasa memuaskan bagi sebagian besar dari kami. Beruntung bagi rekan-rekan yang memperoleh tapak perencanaan yang masih berkaitan dengan sungai, dipastikan pada hari pengamatan mandiri akan kembali ke sungai tersebut untuk melakukan pengambilan data primer. Demi memenuhi keinginan untuk mencoba berperahu satu kali lagi, beberapa dari kami (termasuk saya) akhirnya pergi mengunjungi sungai dan kemudian menyewa dua buah perahu.

 Wisata air

Berlabuh
 
Jembatan

Restoran terapung

Portofolio hidup: Berenang di Sungai Kapuas
 Tumbuhan air

Meriam

All photos were taken with LG Cookie Fresh GS290 mobile phone by Widyastuti Utami around November 19-23th 2011

Sunday, December 25, 2011

Maket

Pengalaman pertama membuat maket adalah ketika berada di tingkat dua, tepatnya semester tiga untuk mata kuliah mayor arsitektur lanskap, yaitu Teknik Studio. Akhirnya setelah menempuh semester satu dan dua perkuliahan yang seakan-akan seperti masih belajar di 'kelas 4 SMA' kami pun mulai bisa mempelajari teknik dasar arsitektral mulai dari gambar teknik dasar di atas kertas hingga pembuatan maket. Waktu itu kelompok saya berkesempatan untuk membuat maket kompleks kandang peternakan dari Fakultas Peternakan IPB. Perolehan tapak untuk maket ditentukan melalui undian dengan siteplan yang telah tersedia dari contoh skripsi senior terdahulu. Tugas akhir semester 3 ini kami kerjakan antara bulan Desember 2009 hingga Januari 2010  

Bersama kelompok lain membuat maket
di salah satu tempat kos teman 

Akhirnya maketpun selesai dikerjakan :D



Trip To Pontianak (Part 3)

Setelah tugu replika, pada hari ketiga fieldtrip pun kami akhirnya berkesempatan untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa yang asli yang berlokasi di wilayah kecamatan bagian utara kota Pontianak. Suhu terasa semakin tinggi ketika turun dari bus dan mulai memasuki area tugu. Entah karena suhu saat itu sedang berada pada titik tertingginya berdasarkan waktu atau sugesti oleh karena saat itu kami tengah berada di lokasi titik 0 derajat.  

Perasaan bahagia pun muncul ketika tugu andalan kota Pontianak ini langsung terlihat dari pintu gerbang begitu  memasuki kawasan hingga mulai mendekat ke arah museum dan memasukinya. Kapan lagi bisa berkunjung ke lokasi geografis bersejarah ini selain kesempatan fieldtrip bersama rekan-rekan arsitektur lanskap! :)

 Menuju ke arah tugu dari arah pintu masuk

Tugu Khatulistiwa 

 Ukiran di sudut atas dinding museum

Pembangunan yang dilakukan terhadap tugu telah mengalami perubahan sebanyak 4 kali :
1.Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
2.Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan anak panah.
3.Pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat di dalam gedung.
4.Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
(Dinas Budaya dan Pariwisata Kalimantan Barat, 2010)


Tugu Khatulitiwa sepanjang masa.
Foto-foto ini saya dapatkan dari dalam museum Tugu Khatulistiwa.


1949

1951

1975

1984

1990-2006

Terdapat dua hal yang telah menarik perhatian saya terhadap tempat ini. Pertama, lokasi tugu yang sangat berdekatan dan langsung berhadapan dengan Sungai Kapuas. Perahu-perahu terlihat berlabuh di tepian, seperti tengah berada di dermaga yang cukup besar. Sayang sekali perahu-perahu tersebut terlihat begitu menutupi area tugu, sehingga pemandangan sungai dari dalam area kurang tereksplorasi dengan baik. Sepertinya area tersebut memang digunakan sebagai pelabuhan.

 Pemandangan tugu dari arah taman yang langsung 
berhadapan dengan sungai

Pemandangan sungai dari taman tugu

Selain keberadaan sungai dengan perahu-perahu besarnya yang begitu menarik perhatian, hal lain yang menarik perhatian saya adalah peristiwa terjadinya titik kulminasi yang terjadi dua kali dalam setahunnya, yang sekaligus dapat mengundang perhatian turis untuk melihat secara langsung fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis Khatulistiwa. Peristiwa ini biasa terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. 

Dokumentasi peristiwa terjadinya titik kulminasi

All photos were taken with LG Cookie Fresh GS290 mobile phone on November 20th, 2011 and edited by Widyastuti Utami 

Trip To Pontianak (Part 2)

Kami pun tiba di kota Pontianak dan menginap di sebuah penginapan asrama haji yang kiranya cukup jauh dari ekspektasi kami sebelumnya yang berharap persis seperti kondisi asrama tempat kami menginap di Yogyakarta. Cuaca panas yang menyengat dan lembab membuat kami sempat kurang merasa semangat dan memerlukan istirahat sejenak. 

Perjalanan di hari pertama pun dilanjutkan dengan mengunjungi dua lokasi berbeda, yaitu contoh kondisi rawa gambut yang berada di pinggir jalan serta taman kota, tempat di mana diletaknnya replika dari Tugu Khatulistiwa.

Sungai yang mengalir di bawah jembatan

Parit di tepi jalan

Pengamatan rawa

Lahan gambut yang digunakan untuk perkebunan

Usai mengamatai contoh dari kondisi lahan rawa gambut, kami pun diajak untuk mengunjungi sebuah taman kota di mana di dalamnya berdiri sebuah replika tagu khatulistiwa yang berada di tengah kolam. Awalnya, sempat saya kira tugu ini adalah yang asli,ternyata dugaan saya salah. Tugu yang asli berada di seberang Sungai Kapuas dari lokasi taman ini. 

 Replika tugu terlihat dari plaza dekat jalan raya

 Tenda promosi operator seluler yang cukup mengganggu
tatanan lanskap taman kota 

 Replika Tugu Khatulistiwa

 Pemandangan Sungai Kapuas dari dalam area taman kota

 Pengunjung yang tidak lain adalah para mahasiswa 
Arsitektur Lanskap IPB :)

Taman yang diberi pagar

All photos were taken with LG Cookie Fresh GS290 mobile phone on November 19th, 2011 and edited by Widyastuti Utami

Friday, December 2, 2011

Trip To Pontianak (Part 1)

Setelah kota Yogyakarta, mahasiswa Arsitektur Lanskap IPB angkatan 2008 kembali melakukan perjalanan field trip (dalam bahasa arsitekturnya, ekskursi) ke Pontianak, Kalimantan Barat. Berbeda dengan kesempatan sebelumnya yang lebih mengutamakan studi dan peninjauan terhadap lanskap-lanskap bersejarah atau landmark kota, kali ini perjalanan dilakukan dalam rangka survey atau pengambilan data untuk tugas mata kuliah Perencanaan Lanskap di semester 7. 

Penerbangan dimulai pada pukul 6 pagi. Kami berangkat dari kampus pada sekitar pukul 3 lebih, tidak sesuai dari jadwal keberangkatan semula pada pukul 2. Saat itu suasana cukup menegangkan oleh karena masih terdapat beberapa rekan yang belum kunjung tiba, namun suasana pun kembali cair ketika bus mulai meluncur pergi tanda seluruh mahasiswa telah hadir. 

Field trip kali ini akan menjadi perjalanan yang tidak akan terlupakan. Melakukan penerbangan bersama teman-teman satu angkatan, pergi ke luar pulau, dan kesempatan ini akan menjadi perjalanan studi terakhir bersama mereka, mahasiswa Arsitektur Lanskap angkatan 2008. 

Bandara Seokarno-Hatta menjadi lokasi awal keberangkatan kami. Sempat terbayang tatanan lanskap bandar udara internasional tersebut yang pernah dilakukan sayembara terhadapnya, salah satu rekan kami bahkan pernah turut serta mengikuti sayembara ini. Pesawat bersiap-siap untuk lepas landas, terlihat beberapa pesawat lain melintas, salah satunya adalah Korean Air (aigoo..bring me into that plane >o<). 

Perjalanan di dalam pesawat menuju bandara Supadio di Pontianak kami tempuh sekitar 1,5 jam. Lanskap Sungai Kapuas terlihat jelas dari atas udara, dengan daerah hulunya lebih banyak dipenuhi vegetasi, sedangkan daerah hilir telah dipenuhi oleh area pemukiman yang menyebabkan kondisi sungai yang berbeda di antara keduanya. Kesan pertama ketika seseorang pertama kali tiba di sebuah bandara di daerah lain akan mencerminkan kondisi kawasan tersebut secara keseluruhan. Ya, kesan pertama saya ketika memasuki bandara ini adalah gerah, panas, dan terlihat kurang teratur untuk arus keluar pengunjungnya. Terbukti, kota Pontianak adalah kota dengan suhu dan kelembaban udara tertinggi yang pernah saya rasakan. Luasan bandara ini masih dapat tidak begitu besar, sehingga membutuhkan perencanaan baru terhadap kawasan tersebut guna menciptakan suasana yang nyaman bagi pengguna jasa penerbangan. Ternyata mereka sendiri telah memiliki master plan yang terpampang untuk desain baru bagi bandara ini.  

Master plan Bandara Supadio

 Suasana di luar ruangan bandara

 Sclupture bercirikan ukiran Kalimantan

Rumah makan dengan atap ciri khas Kalimantan

All photos were taken with LG Cookie Fresh GS290 mobile phone and edited by Widyastuti Utami on November 19th, 2011

Friday, September 2, 2011

'Salju' Di Kebun Raya Bogor

Pernahkah terbayang sebelumnya akan sebuah pemandangan eksotis berbalut kumpulan benda lembut berwarna putih pada salah satu wilayah di Indonesia, tepatnya berada di tengah kota? Ini bukan salju yang biasa kita lihat di berbagai negara empat musim seperti Eropa, Amerika bagian utara, dan Asia Timur. Pemandangan yang muncul pada periode tertentu dalam setahun ini justru datang pada saat musim kemarau di negeri Indonesia ini. Untuk membuktikan langsung keberadaannya, datanglah ke Kebun Raya Bogor pada sekitar bulan Agustus agar dapat menikmati indahnya kapas-kapas yang berguguran dari pohon-pohon kapuk yang sudah lama tumbuh di dalam sebuah hutan tengah kota peninggalan zaman penjajahan Inggris tersebut.

 photo by Amalia Gina P.

photo by Amalia Gina P.

Kapuk randu atau Ceiba pentandra tergolong ke dalam pohon tropis yang berasal dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Karibia, adapun untuk varietas lainnya ada yang berasal dari Afrika. Ia juga dikenal dengan nama kapas/kapok jawa atau kapas sutra. Pohon ini dapat tumbuh hingga 60-70 m dan memiliki batang pohon cukup besar yang bisa mencapai 3 m. 

Ketika melihat pemandangan ini, saya jadi teringat pada sakura, pohon yang juga berbunga pada saat musim semi di negara Jepang. Pada saat itu banyak sekali pengunjung yang berdatangan untuk bisa menyaksikan keindahan alam yang tidak mungkin bisa dinikmati setiap waktunya karena hanya muncul sekali dalam setahun. Tidak hanya turis lokal saja yang berkunjung ke tempat-tempat di mana tumbuh pohon-pohon sakura di dalamnya, melainkan juga turis-turis asing yang tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi pemerintah daerah setempat sebagai salah satu potensi wisata yang memiliki nilai keindahan alam dan budaya tinggi.  

Melihat potensi yang dimiliki oleh pohon kapuk, tampaknya jenis tanaman ini akan mampu memberikan nilai keindahan serupa yang juga dimiliki oleh pohon sakura, khususnya untuk daerah tropis seperti di Indonesia. Oleh karena tergolong ke dalam pohon, sehingga perawatannya pun cenderung low maintanance. Cukup menanamnya secara berjajar dan bergerombol pada area-area berpiknik dan berjalan kaki santai atau jogging, 'salju' di negara tropis akan tercipta dengan sendirinya.

Berikut adalah beberapa foto yang diambil oleh rekan-rekan yang berkesempatan untuk mengunjungi Kebun Raya Bogor pada tanggal 26 Agustus 2011 lalu, pada saat kapuk tengah berguguran dengan lebat. Padang rumput diselimuti kumpulan kapas yang berguguran, pohon-pohon pun tidak luput dari benda-benda lembut berwarna putih tersebut yang menempel di dahannya, sungguh pemandangan yang indah layaknya tengah berada di negara Swiss :D

 photo by Amalia Gina P.


 photo by Amalia Gina P.


 photo by Amalia Gina P.


 photo by Amalia Gina P.


 photo by Amalia Gina P.




Special thanks to Wiwit, Mustika, Icha, Keke, Grace, Nimas, and Agin 
Source : wikipedia (2011) 

Saturday, August 13, 2011

Ginseng Jawa (Som Jawa)

Ketika disebutkan sebuah kata bernama 'ginseng', hal pertama yang terbesit di dalam pikiran saya adalah negeri yang turut mempopulerkannya yaitu Korea. Belum pernah terpikirkan sebelumnya akan melihat langsung tanaman ini dengan mudah tumbuh di lingkungan sekitar rumah. Pemikiran yang salah tersebut telah dibuktikan ketika berlangsungnya kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di daerah Tegal, tepatnya di Desa Kalisalak, Kecamatan Margasari yang baru saja usai. Hanya saja, berbeda dengan ginseng yang biasa tumbuh di Korea, salah satu jenis tanaman perkebunan yang saya lihat tersebut memiliki jenis yang berbeda. Ginseng ini bernama ginseng jawa. 

 source : Prota

 source : Sarawakianaii

Tanaman yang satu ini memiliki nama latin Talinum paniculatum Jacq Gaertn. Saat itu saya bersama dengan rekan-rekan kelompok KKP berkesempatan untuk berkunjung ke rumah salah seorang petani dan peternak sapi yang akan bekerjasama sekaligus membantu kami untuk melakukan kegiatan pembuatan kompos sebagai salah satu program utama kegiatan kami di Desa Kalisalak. Berhubung tidak banyak yang saya tahu mengenai hama dan tanaman perkebunan yang kebetulan tengah didiskusikan, saya pun lebih tertarik untuk melihat-lihat pekarangan pribadi di belakang halaman rumahnya yang dikelola oleh sang istri.  

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah tanaman ginsengnya yang pada awal pemikiran saya saat itu hanyalah sebagai sebuah tanaman hias biasa. Wanita yang berasal dari Semarang tersebut pun menjelaskan bahwa ia biasa menggunakan daun tanaman ginseng dari pekarangan rumahnya sebagai bahan penambah masakan untuk mie.  Selain itu, ginseng jawa juga berfungsi sebagi obat untuk penyakit liver dan ginjal. Uniknya, tanaman itu justru tumbuh dengan lebat pada lantai pekarangannya yang beralaskan semen. Ketika beliau mencoba menanamnya di dalam pot bermedia tanah, tanaman tersebut cenderung layu dan tidak tumbuh lebat. 

Setelah melihat potensi yang dimiliki oleh ginseng jawa, menurut saya tanaman ini dapat dengan baik menjadi salah satu elemen tanaman yang dapat dibudidayakan dan dikembangkan di dalam pekarangan rumah. Tidak hanya fungsi produksi untuk pangan dan obat-obatan saja yang dapat diperoleh, melainkan sekaligus dapat berfungsi sebagai tanaman estetik atau hias. 

Source : 
http://database.prota.org/dbtw-wpd/exec/dbtwpub.dll?AC=QBE_QUERY&BU=http://database.prota.org/search.htm&TN=PROTAB~1&QB0=AND&QF0=Species+Code&QI0=Talinum+paniculatum&RF=Webdisplay
http://sarawakianaii.blogspot.com/2011/04/talinum-tu-ren-shen.html
Cute Line Smiley Cute Line Smiley Cute Line Smiley